Judul :
Biografi Imam Syafi'i
Pengarang :
Dr. Tariq Suwaidan
(diterjemahkan oleh Imam Firdaus Lc,Q. Dipl.)
Halaman :
332 hlm
Penerbit :
Zaman
ISBN :
978-602-1687-39-0
Tahun Terbit
2015
Tariq
Suwaidan adalah seorang penulis buku yang handal yang telah mengarang sejumlah
judul buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seperti; Buku
Biografi Imam Syafii, Ensiklopedia Yahudi, Dari Puncak Andalusia, dll. Selain
aktif di dunia penulisan, Tariq Suwaidan dikenal sebagai ulama Kuwait yang
kontroversial, seperti pengakuannya sebagai anggota Ikhwanul Muslimin Mesir
yang mengakibatkannya dipecat oleh stasiun televisi tempat ia bekerja dan
sejumlah buku karangannya dilarang oleh sejumlah Negara teluk terkhusus Arab
Saudi. Tokoh utama dalam buku ini yaitu imam syafii digambarkan sebagai ahli
ilmu yang tidak sombong serta derwaman. Tokoh lain dalam cerita ini adalah guru
dari tokoh utama seperti ; Imam Malik ibn Anas. Imam malik digambarkan sebagai
ulama yang taat dan cerdas dalam ilmu fiqih dibuktikan dari kitab berjudul
Al-Muwaththa yang ditulisnya.
Gaya
bahasa dalam buku ini menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami oleh orang
awam yang sedang mempelajari sejarah sang imam. Tariq Suwaidan menggunakan
bahasa yang mudah dipahami dan diterjemahkan kedalam beberapa bahasa. Namun,
buku ini masih menonjolkan sedikit tentang ilmu fiqih imam syafii. Buku ini
banyak mengandung amanat yang bermanfaat bagi pembaca untuk meningkatkan
keimanan dan keutamaan pemuda dalam menuntut ilmu akhirat maupun dunia.
Kisah
buku ini diawali ketika orang tua imam syafii memutuskan hijrah ke Palestina.
pada tahun 150 hijriah imam syafii lahir. Tahun kelahiran imam syafii
bertepatan dengan wafatnya Imam Abu Hanifah, guru para ahli fiqih Iraq dan imam
metode qiyas. Imam Syafii lahir dikota Ghaza, Palestina dengan nama Abu
Abdillah Muhammad Ibn Idris Ibn Al-Abbas Ibn Utsman Ibn Syafii Ibn ‘Ubaid Ibn
Abd Yazid Ibn Hasyim Ibn Muthallib Ibn Abdi. Nama syafii sendiri berasal dari
nama moyang imam syafii bernama syafii ibn al-sa’ib, ia termasuk sahabat
rasullulah generasi akhir. Imam Syafii sendiri masih memiliki hubungan
kekerabatan dengan Nabi Muhammad Saw dimana nasab Imam Syafii bertemu dengan
nasab Nabi, tepatnya di Abdi Manaf. Perjalanan berlanjut ketika Ayah Imam
Syafii meninggal, Ibu beliau memutuskan untuk kembali ke makkah dengan alasan
agar nasab mulia yang dimiliki anaknya tidak terputus. Makkah merupakan tanah
kelahiran leluhur syafii dan disini awal mula syafii belajar ilmu fiqih serta
ilmu dunia. Syafii belajar ilmu fiqih bersama gurunya Muslim Ibn Khalid
Al-Zanji, pada usia tujuh tahun syafii sudah hafal al-qur’an dan ketika usia
sepuluh tahun berhasil menghafal kitab Al-Muwaththa karya imam malik ibn anas.
Imam syafii tidak hanya belajar ilmu fiqih namun ilmu-ilmu lainnya seperti ilmu
syair, ilmu nasab, ilmu perang, dll. Ketika sedang asik melantunkan syair di
sebuah majelis miliknya, tiba-tiba seorang sahabat beliau berkata “sungguh
sayang jika suara merdu yang dimiliki imam syafii hanya digunakan untuk hal-hal
yang sifatnya duniawi serta menyarankan imam syafii untuk belajar ilmu fiqih
kepada imam malik ibn anas di madinah”. Saran sahabatnya tersebut disambut baik
oleh imam syafii, beliau akhirnya mengirim surat untuk Gubernur Madinah agar
dipertemukan dengan imam malik.
Sesampainya
dimadinah imam syafii menghadap Gubernur Madinah, setelah menjelaskan maksud
kedatangannya, Imam syafii dan Gubernur Madinah pergi ke rumah Imam Malik.
Akhirnya imam syafii dan gubernur tiba dirumah imam malik. Namun kedatangan
mereka ditolak imam malik dengan alasan gubernur menggunakan kekuasaanya untuk
ia menerima syafii sebagai muridnya. Syafii menghadap dan menjelaskan maksud
kedatangannya ikhlas untuk menuntut ilmu sedangkan gubernur hanya
mengantarkannya, untuk lebih meyakinkan imam malik ia melantukan kitab
Al-Muwaththa dengan fasih dan lancar hingga imam malik kagum dan menerimanya
sebagai murid. Resmi imam syafii menjadi murid imam malik dan belajar ilmu
fiqih kepadanya sampai imam malik wafat. Selama belajar dengan imam malik, imam
syafii pun gemar melakukan perjalanan menuntut ilmu ke negeri-negeri arab
lainnya seperti Yaman, Iraq, Syam, hingga Mesir.
Pengalaman
Syafii menurut penulis yang paling berkesan adalah ketika di Iraq, ketika imam
syafii berjumpa dengan Muhammad ibn al-hasan murid imam abu hanifah. Iraq merupakan pusat berkembangnya ilmu fiqih
terutama fiqih abu hanifah, disini imam syafii belajar ilmu fiqih mazhab hanafi
dengan Muhammad ibn al-hasan yang menjadi gurunya serta sebagai pendebat
baginya, sehingga imam syafii dapat menguasai ilmu fiqih mazhab maliki dan
hanafi. Setelah merasa cukup imam syafii meninggalkan Iraq dan pergi ke mesir.
Mesir merupakan tempat berkembangnya ilmu fiqih mazhab maliki sehingga imam
syafii merasa sangat dekat dengan penduduk mesir, hingga berjumpa dengan
Muhammad ibn Abdullah ibn Abdul Hakam seorang penganut mazhab maliki, bersama
dirinya syafii belajar dan berdebat tentang ilmu fiqih bersamanya. Selain
menuntut ilmu, di mesir imam syafii mendirikan sebuah majelis ilmu dan mulai
berfatwa mengenai masalah agama sehingga terbentuk mazhab baru yakni, mazhab
syafi’iyah. Mazhab imam syafii ini mengkombinasi antara mazhab imam malik yang
menekankan kebiasaan orang madinah dengan mazhab imam abu hanifah yang
menekankan logika penalaran dalam setiap
hukum fiqihnya. Imam syafii dalam menyusun kitab fiqihnya didasarkan pada
al-qur’an dan hadis rasulullah saw, serta jika tidak menemukan hukum di dalam
al-qur’an dan hadis, imam syafii mendasarkan hukumnya melalui beberapa metode
seperti; pendapat para sahabat, ijma para ulama, qiyas. Imam syafii sendiri
menolak metode istihsan dalam pembuatan hukum fiqihnya dengan alasan siapa yang
melakukan istihsan berarti ia telah membuat hukum sendiri. Metode inilah yang
membedakan mazhab syafii dengan mazhab lainnya terutama mengenai istihsan itu
sendiri, dimana mazhab lain menggunakan metode istihsan tersebut. Mesir pula
negeri dimana imam syafii wafat, setelah selama bertahun-tahun berkelana
mencari ilmu serta menebar kebenaran ilmu allah dalam agama yang mulia yakni,
agama islam.
