Menyaksikan film ini, bayangan akan menonton film bermutu sarat
nuansa nasionalisme sudah menggelora sejak awal. Apalagi adegan dibuka dengan
penggambaran pengungsi dari wilayah Timor-Timur yang mengalir ke wilayah
Indonesia pasca jajak pendapat memenangkan kubu pro-kemerdekaan pada 1999.
Adegan ini dahsyat bagi saya, karena detail penggambaran ribuan pengungsi yang
menggunakan aneka jenis kendaraan terutama truk yang dipasangi bendera merah
putih dan sebagian besar lainnya berjalan kaki membuat rasa kebangsaan saya
bergetar. Apalagi mengetahui faktanya mereka rata-rata-rata berjalan 8 jam
bahkan lebih untuk mencapai perbatasan dengan Indonesia. Dalam film ini, para
pengungsi tersebut masuk dari pintu kota Tuapukan dan Uabelo di provinsi Nusa
Tenggara Timur (NTT). Miris sekali rasa hati ini.
Di antara para pengungsi itu terdapat Tatiana (29 tahun, diperankan
oleh Alexandra Gottardo) dan putriya Merry (10 tahun, diperankan oleh Griffit
Patricia). Mereka terpaksa meninggalkan Timor-Timur tanah airnya yang saat itu
sudah dalam proses menjadi Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Mereka
bahkan meninggalkan kakak Merry, Mauro (12 tahun, diperankan oleh Marcel
Raymond) yang dititipkan pada seorang pamannya yang bertahan di Timor-Timur.
Kisah inilah yang menjadi benang merah utama keseluruhan film, bagaimana
keluarga itu berjuang untuk dapat bertemu kembali dengan Mauro.
Namun bayangan akan menyaksikan film heroik atau minimal
mengharukan rusak begitu muncul karakter Abu Bakar (diperankan oleh Asrul
Dahlan) yang konyol. Abu Bakar ini adalah seorang pria Timor yang baru saja
menikah dua minggu dan harus terpisah karena sang istri memihak kubu
pro-kemerdekaan (kemudian diketahui sang istri ini sudah menikah lagi). Untuk
menyambung hidupnya, pria bertubuh tinggi besar yang buta huruf ini berjualan
bensin eceran. Tingkah Abu Bakar yang memang karakter utama pria ini mewarnai
keseluruhan film dengan gelak-tawa. Misalnya saja saat ia mengakali penjual pom
bensin yang menolak melayani pembelian dengan jeriken (dari kata bahasa Inggris
jerry can) dengan memodifikasi tangki bensin motornya menjadi berukuran super
besar. Namun ada tindakan yang bisa dimaknai secara simbolik saat Abu Bakar
menempelkan sticker bertuliskan “Timor Leste” secara terbalik di tangki
motornya. Meski didalihkan itu karena buta huruf, tapi bisa diartikan berbeda.
Kuatnya karakter Abu Bakar ini membuat film secara keseluruhan terbungkus oleh
komedi, padahal inti ceritanya ironi. Yah, seperti membungkus ironi dengan
komedi.
Walau begitu, nuansa kesedihan tetap terasa apalagi saat ditunjukkan
gambaran kamp pengungsian yang seadanya. Bahkan upacara pernikahan di tepi
pantai yang ditingkahi lagu gembira “Bonita” dan “O’Dobben” tetap terasa
menggiriskan hati. Di upacara pernikahan inilah karakter dokter Joseph
(diperankan sendiri oleh sang sutradara Ari Sihasale) pertama kali muncul
setelah dicari oleh Merry yang berlari panik karena ibunya sakit. Melalui
karakter ini jualah pesan “cucilah tangan sebelum makan” yang ternyata
disponsori oleh Lifebuoy (terlihat jelas dalam credit title di akhir film)
sering digemakan, juga lewat tokoh-tokoh lainnya. Bagi saya, masuknya pesan
sponsor ini cukup halus karena tidak ada logo sponsor terlihat di sepanjang
film, mereknya pun tidak disebut, hanya pesan yang terasa universal itu saja.
Penggambaran karakter lain juga kuat. Misalnya karakter Carlo
(diperankan dengan baik oleh Yehuda Rumbini) teman sekolah Merry yang nakal dan
senang mengganggu Merry, ternyata kemudian menjadi sahabat terbaiknya. Tatiana
sendiri yang mengajar di sekolah darurat
dimana Merry dan Carlo belajar. Berbagai kekonyolan juga muncul dari karakter
ini, seperti adegan saat ia mencarikan minuman untuk Merry dimana ia mencuri
air dari ceret seorang warga. Juga ada karakter pedagang peranakan keturunan
Cina yaitu Koh Ipin (Robby Tumewu) dan Cik Irene (Tessa Kaunang) yang baik
hati. Suami istri itu selain memberikan Merry pekerjaan membantu mereka di
toko, juga membiarkan Merry membeli oleh-oleh kaos untuk Mauro seharga Rp
5.000,- saja. Padahal harga kaos itu aslinya Rp 50.000,-
Lukman Sardi yang di film-film lain kerap bermain sebagai peran
utama, di film ini hanya mendapatkan peran kecil sebagai petugas relawan. Dari
tangannya-lah didapatkan informasi tentang pencarian sanak-saudara yang masih
tertinggal di Timor-Timur. Merry akhirnya bertemu Mauro di akhir film,
berlokasi di “jembatan air mata” yang aslinya terletak di Mota ‘Ain. Oh ya,
disebut begitu karena di jembatan yang menjadi pemisah kedua negara yaitu
Republik Indonesia dan Republik Demokratik Timor Leste itu warga kedua negara
yang sesungguhnya satu bangsa kerap bertemu dan saling berderai air mata di
sana.
Bagi saya, pesan film ini sangat kuat. Agar pemerintah peduli pada
nasib pengungsi Timor-Timur. Apalagi pekan lalu harian Kompas sempat mengangkat
problema ini di halaman pertama serta liputan utamanya. Detailnya juga bagus,
apalagi film ini memang digarap di lokasi pengungsian asli di Nusa Tenggara
Timur. Apalagi penggunaan bahasa Indonesia dialek Timor yang kental di
sepanjang film mengingatkan saya pada film kesukaan saya, Dances With Wolves
(1990) yang menggunakan bahasa Indian Sioux dan Pawnee, patut diacungi jempol.
Terlibatnya tentara asli dari kesatuan Kostrad dan Kopassus yang berjaga di
sekitar “jembatan air mata” pun sempat mengagetkan saya. Ternyata, film ini
memang didukung resmi oleh pemerintah dan Kodam setempat seperti tercantum di
credit title. Bahkan nama sejumlah jenderal pun terlihat di sana. Rasa
nasionalisme juga terjaga dengan tidak diperlihatkannya bendera negara RDTL
sepanjang film. Padahal, aslinya dari “jembatan air mata” perbatasan dengan
RDTL terlihat jelas.
Kalau pun ada kelemahan, selain “jembatan air mata” yang terlihat
lebih pendek dibandingkan aslinya, hanya detail-detail kecil. Sebutlah mobil
relawan yang hanya berwarna putih saja tanpa tulisan “UN”. Mungkin Alenia
Pictures tidak mendapatkan izin dari PBB. Juga pemakaian lagu “Kasih Ibu” yang
dinyanyikan Merry dan Mauro di atas jembatan air mata -apalagi Carlo
ikut-ikutan- terasa sekali “sinetron banget”. Gaya realis menjadi rusak di
adegan surealis ini.
Toh, secara keseluruhan, film ini sangat bagus. Terutama untuk
mengingatkan kita bahwa Indonesia bukan hanya Jawa. Dan masih banyak masalah
bangsa selain mengurusi kasus video porno “mirip artis”. Dan jelas, seperti
lagu “Indonesia Pusaka” karya Ismail Marzuki yang syair pertamanya jadi judul
film ini, senantiasa mengingatkan kita bahwa Indonesia adalah tanah air beta,
yang akan selalu kubela dan kujaga.






































