Jumat, 01 Mei 2015

Pertarungan Cindy

Cindy. Gadis berusia 15 tahun ini sedang gelisah menunggu hasil pengumuman kelulusan di depan gerbang sekolahnya yang masih tertutup bersama semua teman-temannya yang juga gelisah dengan alasan yang sama. “duuh, gimana ya kalo ga lulus?” keluh Hehey, sahabat Danya. “tenang aja Hey, kamu pasti lulus kok.. Aku percaya. Kita harus optimis” jawab Cindy sambil memegang pundak Hehey. Senyum hehey mengembang sedikit, perkataan Cindy membuat Hehey sedikit lega. Pintu gerbang sekolahpun terbuka, semua anak menyerbu papan pengumuman yang terdapat di tengah lapang sekolah. Semua anak hirup-pikup mencari namanya di setiap kertas yang tertempel di papan pengumuman itu. Cindy memegang tangan Hehey agar sahabatnya itu tidak hilang. Pada papan pertama dan kedua tidak tercantum nama mereka.. ketika mereka melihat papan ketiga, ternyata hasilnya mereka berdua dinyatakan, LULUS dan dapat meneruskan ke SMA pilihan pertama mereka. Betapa gembiranya Cindy dan Hehey saat melihat pengumuman itu, tetapi disela kebahagiaan mereka terpancar kesedihan yang teramat-sangat karena mereka akan berpisah. Hehey dapat beasiswa ke Hongkong untuk meneruskan masa SMA nya di sana.

Beberapa bulan berlalu, Cindy sudah mengenakan seragam putih abu-abu, seragam SMA favorit pilihannya. Namun yang ia tidak tahu adalah pergaulan SMA favorit tersebut tidak se-favorit perkiraan orang-orang awam. Rokok, Narkotika, dan Sex bebas menjadi keseharian yang tidak aneh di sekolah itu. Cindy pun tidak tahu akan hal itu. Hari pertama masuk SMA, Cindy adalah anak yang rapih dan teladan. Namun itu tidak berlangsung lama. Cindy menemukan sahabat barunya di sana, Caesar dan Kanya. Walaupun memiliki nama hampir sama dengan Cindy, sifat Kanya sangatlah tidak ada mirip-miripnya dengan Cindy. Kanya adalah seorang siswi perokok yang senang keluar malam. Caesar sendiri sudah tidak asing, ia adalah bandar narkoba di sekolah tersebut. Cindy masuk ke dalam lubang buaya, ia salah memilih teman.

Cindy bukannya menjauhi kedua orang itu, tapi Cindy malah terbawa pergaulan yang salah akibat kedua temannya itu. Cindy menjadi perokok dan pemakai narkoba. Beberapa bulan berlalu Cindy suddah mengalami 3 kali over dosis dan 3 kali pula ia koma di rumah sakit. Orang tua Cindy hanya bisa menangis dan menyesali semuanya. Prestasi Cindy menurun derastis, bagai terjun bebas dari pesawat yang sedang terbang di langit. Ia sering bolos sekolah untuk berpesta narkoba bersama Caesar dan Kanya. Hidupnya kini suram.

Bunga, seorang pengurus osis kelas 2 di sekolah itu memperhatikan Cindy sejak lama. Ia kasihan kepada Cindy yang bagai orang gila ketika tiba-tiba sakau di sekolah. Ia mencari-cari informasi tentang Cindy kepada orang tuanya, namun hasilnya nihil. Orang tuanya tidak memberi jawaban yang berguna bagi penyelidikannya. Ketika suatu hari Bunga sedang duduk di kantin yang kosong, ia bertemu Aldi. Murid kelas 3. “kamu sedang membuntuti Cindy ya?” tanya Aldi dengan dingin yang tiba-tiba duduk di sebelah Bunga “i..iya, kok kamu tahu?”,”karna aku juga melakukan hal yang sama denganmu” lalu Aldi pergi meninggalkan Bunga. Bunga melihat Aldi berlalu dari sampingnya. Dikepalanya kini makin banyak tanda tanya.

Beberapa hari kemudian, ketika pelajaran berlangsung Cindy tiba-tiba pingsan. Semua anak tidak ada yang menyadarinya, kecuali.. Azka. Dia adalah teman sebangku Cindy. Azka lalu minta izin untuk membawa Cindy ke UKS, namun tidak ada yang mau membantunya. Dengan sekuat tenaganya Azka menggendong Cindy di punggungnya. Azka tidaklah lebih tinggi dan lebih besar dari Cindy, jadi menggendong Cindy bukanlah hal yang mudah. Ketika sampai di tangga Azka merasa kelelahan, saat itulah Aldi kebetulan lewat. “Cindy kenapa de?” tanya Aldi pada Azka yang ternyata adalah adiknya. “nggak tau kak, tiba-tiba aja pas lagi belajar matanya menatap kosong, seperti orang kurang tidur, lalu wajahnya pucat dan kepalanya tiba-tiba saja jatuh ke meja”,”biar aku saja yang membawa Cindy ke UKS.. kembalilah kamu ke kelas” perintah Aldi. Azka menurut.

Mata Cindy menerawang seisi ruangan ketia ia tersadar dari pingsannya. “dimana ini?” tanya dia pelan sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. “di UKS” sosok tubuh Aldi keluar dari balik tirai di dalam UKS itu. Cindy tiba-tiba saja merasa malu, canggung, dan kaget karna tiba-tiba ada seorang anak yang paling populer di sekolahnya yang sangat ia kagumi berada dalam satu ruangan bersamanya. “a..aku kenapa?” tanya Cindy, “ kamu pingsan, sepertinya kamu sudah mau ngengalami sakau ketika tadi di kelas”.. pipi Cindy yang memerah kini terbasahi oleh air mata. “aa..aku. aku gak mau pake narkoba lagi! Semua hidup aku hancur gara-gara narkoba! Aku gak mau tau lagi! Aku capek! Aku capek terus-terusan sakau dan koma di rumah sakit gara-gara over dosis! Aku gak mau lagi!!” cerita Cindy sambil agak berteriak berlinang air mata. Aldi duduk di sebelah tempat tidur Cindy. Ia mengelus kepala Cindy dengan lembut. “tenang.. aku akan membantumu berubah..pasti..itu janjiku”, “kamu serius..?”, “iya.. karena aku sayang kamu, Cindy”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar