Minggu, 20 Maret 2016

Tugas Softskill B.Indonesia 2 Essay

Bekerjasama dengan sampah
Masyarakat era globalisasi di Indonesia yang konsumtif sangat merugikan dengan tingkah laku pola hidup bermewah – mewah dan tidak melihat lingkungan sekitar. Keadaan yang susah ini membuat pemerintah harus turun tangan akan hal tersebut untuk menanggulanginya dan turut serta masyarakat yang peduli akan perbuatan yang tidak patut, apakah hal ini patut dicontoh?. Membuang sampah sembarangan adalah sikap warga indonesia yang tidak peduli lingkungan sekitar dan merugikan oranglain sehingga merusak tanaman atau aliran sungai yang mengalir deras sampai tersumbat karnah adanya sampah, entah dari sampah limbah atau sampah yang dibuang dari masyarakat sekitar. Tidak adanya kepedulian dan kesadaran diri masyarakat ini merupakan tindakan yang tidak wajar selayaknya manusia dengan kemampuan berfikir apa itu layak untuk dilakukan atau tidak. Mengkaji suatu hal yang dapat  dicerna adalah sifat dasar manusia yang seharusnya menjadikan kepribadian baik. Melakukan perbuatan buruk adalah tindakan tidak wajar karena halnya membuang sampah sembarangan itu tidak baik.
Kepedulian masyarakat akan sampah sangat kurang karena turunnya martabat seseorang karena mengambil sampah yang ada di sudut jalan untuk menaruhnya ke tempat sampah. Apa salahnya menaruh sampah tersebut kedalam tempat sampah, melakukan hal tersebut tidaklah keji ataupun dosa, sebaliknya hal tersebut akan mengurangi polusi dan tertibnya lingkungan sekitar, dengan arti dapat melatih kedisiplinan seseorang hanya karena mengambil sampah, apalagi dengan tindakan lain agar dapat disiplin. Sampah yang tergeletak di sudut jalan akan tertimbun dengan sampah lain yang akan menimbulkan polusi, sama dengan yang ada di sungai akan terus mengendap dengan sampah tambahan warga yang lain. Perilaku yang sangat tidak baik melakukan hal tersebut. Sampah yang tertimbun karena warga mengetahui adanya banyak sampah dan warga berfikir disanalah tempat pembuangan sampah, begitu juga dengan sungai yang banyak tertimbun sampah, karena tingkat kesadaran warga yang rendah sampah itu akan tetap tertimbun lama bahkan selamanya.
Banyak solusi akan sampah untuk meminimalisirkan barang yang berguna terutama sampah organik yang dapat diolah menjadi keuntungan tersendiri. Meminimalisir pembuangan sampah akan menurunkan tingkat polusi yang ada di pusat pembuangan sampah, dengan cara meminimalisir pemakainan plastik yang kurang bermanfaat karena pemusnahan yang akan terjadi berlangsung selama bertahun – tahun dan dapat dikatakan lama. Kurang bermanfaat akan adanya sampah yang tidak dapat dipilah dan mengakibatkan terjadinya sampah organik, jika digabungkan dengan perilaku masyarakat indonesia sekarang yang masih banyak membuang sampah sembarangan dan merugikan lingkungan sekitar serta tidak adanya kesadaran untuk mengambil sampah tersebut kedalam tempat sampah.
Sampah merupakan hasil dari sisa barang jadi maupun tidak jadi yang tidak diinginkan dan dapat diproses menjadi barang yang berguna seperti sampah plastik yang bisa dijadikan kerajinan tangan oleh ibu – ibu atau kelompok anak muda kampung untuk uang tambahan. Kelayakan sampah untuk di daur ulang tidak akan mengurangi nilai martabat yang ingin mendaur ulang, tidak ada salahnya menggunakan sampah untuk kebutuhan hidup yang layak karena pada dasarnya dapat diolah menjadi berguna.
Menurut Wikipedia gambaran sampah secara umum ada 2, yaitu sampah organik dan sampah limbah. Sampah organik adalah sampah yang dapat didaur ulang karena sifatnya kering, contoh dari bahan tersebut diantaranya berbahan plastik, kayu, kertas, besi dan lain – lain. Berbeda dengan sampah limbah atau non organik, sampah ini pada dasarnya tidak dapat didaur ulang karena sifatnya yang cair dan menimbulkan polusi, biasanya terdapat disungai akibat pembuangan dari pabrik atau rumah industri yang pembuangan terakhirnya melalui sungai ke laut. Sangat disayangkan sungai yang menjadi perantara limbah mendapat pencemaran yang sangat tidak baik,.
Tetapi di Indonesia khususnya Jakarta terdapat sampah organik yang mengalir sepanjang aliran sungai karena kurangnya pengawasan pemerintah dan kesadaran warga sekitar akan hal apa yang akan terjadi jika sampah organik yang mengalir pada kapasitas maksimum, ditambah dengan polusi dari sampah limbah yang akan menjadikan dua kali lipat polusi di daerah terbeut khususnya sungai ciliwung di Jakarta. Melalui himbauan tersebut warga seharusnya sadar jika penyumbatan aliran sungai terjadi maka banjir akan melanda Jakarta dan warga menuntut tidak pantas ke pemerintah untuk mendanai musibah banjir tersebut. Sangat disayangkan jika warga setempat seperti itu, yang seharusnya melalui kesadaran diri sendiri.
Di Indonesia warga yang semakin konsumtif membeli barang- barang yang tidak berguna setelah itu dibuang ketempat yang tidak seharusnya, karena semakin banyaknya warga yang konsumtif maka meluapkan barang organik seperti bahan plastik yang akan meluap hingga penampungan terakhir tidak dapat menampung lagi. Barang organik yang dapat diolahpun menambah tetapi prinsip mendaur ulang pun menurun dari dikap warga sekitar, karena tingkat kesadaran yang minim. Melawan hal tersebut yang rata – rata warga kampung yang ingin mempunyai uang tambahan mengelola daur ulang sampah organik, suatu sikap yang bijaksana bagi warga yang berfikiran seperti itu.
Penimbunan atau pengendapan sampah meningkat di Jakarta yaitu 6000 Ton per hari, dua kali lipatnya yang diprediksikan oleh pemerintah DKI Jakarta PT Godang Tua Jaya sebagai pengelola Bantar Gebang yaitu 3000 Ton. Kontrak kerja yang dibangun oleh Pemerintah DKI Jakarta dengan PT Godang Tua Jaya selama 15 tahun hingga 2023, sejak alwal kontrak pada tahun 2012 terhitung sampah yang dikelola 4500 Ton perhari sampai empat tahun pertama, pada tahun kelima menjadi 3000 Ton per hari hingga tahun kesembilan menurun menjadi 2000 Ton per hari. Pemerintah harus mengeluarkan ratusan milyar untuk biaya pembayaran pengelola sampah terpadu. Melawan hal tersebut pemerintah harus lebih fokus dengan penaggulangan sampah yang semakin banyak guna meminimalisir sampah yang ada dan dapat didaur ulang menjadi barang bekas berguna.
Dalam pembicaraan wawancara yang saya lakukan oleh kedua saudara/i Rifka Annisa dan Muhammad Naufal, disini akan membicarakan tanggapan tentang dilarang membuang sampah sembarangan. Masing – masing pihak yang diwawancarai akan mengemukakan semua pendapat yang akan disarintg oleh pewawancara. Hasil yang akan saya berikan dari wawancara tersebut akan saya lampirkan diessay ini.
Di soal pertama saya akan bertanya tentang Apa pendapat anda mengenai kondisi masyarakat masa kini terutama mengenai sampah?, dari jawaban saudari Rifka Annisa adalah masyarakat sekarang yang tidak sadar lingkungan dan memikirkan diri seniri tanpa memedulikan orang lain. Sedangkan menurut Muhammad Naufal tidak adanya peduli dari masyarakat tetapi bukan salah masyarakat sepenuhnya, lebih kepada pemerintah karena kurang menyediakan fasilitas pembuangan sampah. Disini saya lihat pada tanggapan awal yang sama tetapi di jawaban naufal yang kedua lebih ke arah pemerintah. Menurut saya pemerintah sudah melakukan dengan baik sampai mengeluarkan biaya bejuta – juta milyar untuk sampah tetapi balik lagi kepada masyarakat yang tidak ingin rugi untuk mengeluarkan biaya membuang sampah.
Di soal kedua saya siapa yang melakukan hal tersebut?, jawaban dari saudari Rifka Annisa adalah warga komplek sebelah karena komplek saudari yang masih asri banyak pepohonan dan tanah lapang jadi sasaran untuk membuang sampah. Sedangkan Muhammad Naufal berpendapat anak kecil yang kurang akan pendidikan mengenai membuang sampah yang baik dan benar serta aplikasi orang tua yang kurang dan enggan peduli dengan hal itu. Dari kedua jawaban diatas bebeda tujuan yang dimaksud adalah tanah lapang yang sasaran empuk bagi masyarakat memang menjajikan jika diam – diam membuang sampah di tempat tersebut, serta anak kecil yang kurang pendidikan akan membuang sampah tidak dapat disalahkan seutuhnya melainkan kepada orang tua nya yang memberi nasihat tentang membuang sampah.menurut saya pendidikan mengenai membuang sampai tidak dapat disamakan dengan umur, dari kecil hingga dewasa harus tetap diberi pendidikan akan hal membuang sampah pada tempatnya.
Di soal ketiga Dimana anda biasanya anda temukan tumpukan sampah sembarngan? Saudari Rifka Annisa menjawab dipinggir jalan dan terutama di tanah lapang seperti di belakang rumahnya, menurut saudara Muhammad Naufal di selokan dan terutama disungai ciliwung dekat dengan rumahnya. Baik seperti saya lihat pendapat keduanya berbeda tetapi yang menjadi objek dari Rifka Annisa adalah tanah lapang yang memang kesempatan yang bagus bagi para masyarakat yang membuang sampah di tanah kosong yang tidak dijaga oleh siapapun, sedangkan dari saudara Muhammad Naufal sungai adalah tempat strategis untuk membuang sampah karena sungai tersebut milik umum yang siapapun dapat membuang ke sana. Tanggapan saya perhitungkan lagi sebagai warga yang baik untuk membuang ketempat yang tidak seharusnya, sadar akan keadaan orang lain dan tidak merugikan sekitar.
Disoal keempat Kapan biasanya anda melihat masyarakat yang membuang di tempat tersebut? Saudari Rifka Annisa pun menjawab di tanah kosong warga seberang bisanya membuang pada malam hari dan keesokan pagi harinya sudah banyak sampah di tempat tersebut. Sementara Muhammad Naufal pun berbicara setiap keluar rumah warga sekitar tidak mempedulikan jangka panjang jika membuang sampah sembarangan, dan warga jakarta biasanya menyalahkan warga bogor jika terjadi banjir padahal warga jakarta sendiri yang membuang sampah sembarangan. Bisa saya lihat pendapat Rifka Annisa yang warga komplek sebelah dengan perilaku yang tidak senonoh dan pendapat Muhammad Naufal dengan warga jakarta yang selalu menyalahkan warga bogor. Pendapat saya melihat kedepan adalah salah satu kunci untuk saling mendukung satu sama lain.
Disoal kelima Kenapa tidak ada tindakan lebih lanjut? Jawaban Rifka Annisa himbauan yang tertulis dilarang membuang sampah sembarangan, sedangkan dari Muhammad Naufal dilihat dari kesadaran diri sendiri. Kita sambungkan kedua kejadian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa warga dengan kesadaran yang tinggi akan menimbulkan simpati satu sama lain.
Disoal terakhir Bagaimana solusi anda mengenai hal tersebut? Rifka Annisa menjawab diberi pembatas dan di beri tempat yang banyak untuk membuang sampah sedangkan Muhammad Naufal menjawab diberi tahu di sosial media atau televisi yang dibawakan langsung oleh pemerintah atau pak presiden mengenai membuang sampah sembarangan. Dapat ditanggapi bahwa kualitas pemerintah dalam membratasi sampah sudah cukup memuaskan karena anggaran yang dikeluarkan tidak sedikit, jadi banggalah dengan pemerintah yang tidak ada kata lelah untuk bangsa Indonesia


http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/02/sampah-di-jakarta-diperkirakan-capai-6-000-ton-per-hari

Lampiran

Rifka Annisa
1.      Apa pendapat anda mengenai kondisi masyarakat masa kini terutama mengenai sampah?
Intinya untuk masyarakat sekarang saya menilai banyak warga yang tidak sadar akan lingkungan, misalkan mereka membuang sampah sembarangan tidak peduli tempat apapun itu, sebenarnya ini tidak patut karena moral dan nilai etika masyarakat menurun, jadi intinya mereka lebih tidak peduli terhadap lingkungan
2.      Siapa yang melakukan hal tersebut?
Menurut dugaan saya, keluarga dan warga sekitar diduga komplek sebelah karena wilayah komplek saya masih asri istilah kata msih banyak pepohonan dan tanah lapang dan mereka memanfaatkannya untuk membuang sampah
3.      Dimana anda biasanya anda temukan tumpukan sampah sembarngan?
Dimana – mana dipinggir jalan itu terutama paling banyak, ditempat umum juga seperti halte, stasiun dan lainnya yang lebih parah lagi diskitar perumahan pun banyak, apalagi ditanah – tanah lapang karena masyarakat menganggap tanah lapang tempat yang dapat dimanfaatkan untuk hal yang lebih berguna
4.      Kapan biasanya anda melihat masyarakat yang membuang di tempat tersebut?
Terutama di tempat yang saya bilang tadi yaitu tanah lapang dan mereka biasanya membuang sampah tersebut pada malam hari, besok paginya yang tadinya tanah itu bersih itu sudah banyak tumpukan sampah
5.      Kenapa tidak ada tindakan lebih lanjut?
Sebenarnya sudah ada peringatan seperti ditulisnya peringatan dilarang membuang sampah di tempat ini tetapi dihiraukan oleh mereka
6.      Bagaimana solusi anda mengenai hal tersebut?
Kalau menurut saya dibuat peringatan harusnya wilayah tersebut harus diberi pembatas seperti pagar atau beton sehingga mereka tidak dapat membuang sampah di tempat itu atau warga menyediakan tempat pembuangan sampah

Muhammad Naufal

1.      Apa pendapat anda mengenai kondisi masyarakat masa kini terutama mengenai sampah?
Menurut saya masyarakat masa kini semakin tidak peduli terhadap sampah walaupun sudah banyak himbauan tetntang dilarang membuang sampah sembarangan tetapi bukan salah masyarakat sepenuhnya melainkan dari pemerintah karena kurang mnyediakan fasilitas tempat untuk membuang sampah pada tempatnya
2.      Siapa yang melakukan hal tersebut?
Banyak masyarakat yang melakukan hal tersebut terutama anak kecil yang kurang diberi pendidikan tentang membuang sampah sembarangan dan orang tua yang seakan tidak peduli dengan hal itu
3.      Dimana anda biasanya anda temukan tumpukan sampah sembarngan?
Biasanya saya melihat tumpukan sampah di selokan, di pinggir jalan, atau di sungai sekitar dekat rumah saya yaitu ciliwung dan di dekat kampus
4.      Kapan biasanya anda melihat masyarakat yang membuang di tempat tersenut?
Setiap saya keluar rumah beberapa warga pasti ada yang membuang sampah sembarangan tanpa mempedulikan jangka kedepannya seperti banjir yang biasanya terjadi dan menyalahkan kota bogor khusunya pada warga jakarta
5.      Kenapa tidak ada tindakan lebih lanjut?
Mungkin itu dilihat dari kesadaran diri sendiri dari masyarakat akan bahaya nya banjir dan dampak buruk untuk kepentingan warga sekitar
6.      Bagaimana solusi anda mengenai hal tersebut?
Seperti iklan di tv contohnya presiden yang berbicara langsung pada masyarakat di televisi pada masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dan pemerintah sudah menyiapkan beberapa titik tempat sampah untuk mempermudah membuang sampah tersebut tidak di pungut biaya sama sekali, mungkin karena biaya juga masyarakat lebih memilih tempat membuang sampah yang gratis seperti di sungai atau di tanah kosong

Senin, 15 Juni 2015

RESENSI : FILM TANAH AIR BETA


Menyaksikan film ini, bayangan akan menonton film bermutu sarat nuansa nasionalisme sudah menggelora sejak awal. Apalagi adegan dibuka dengan penggambaran pengungsi dari wilayah Timor-Timur yang mengalir ke wilayah Indonesia pasca jajak pendapat memenangkan kubu pro-kemerdekaan pada 1999. Adegan ini dahsyat bagi saya, karena detail penggambaran ribuan pengungsi yang menggunakan aneka jenis kendaraan terutama truk yang dipasangi bendera merah putih dan sebagian besar lainnya berjalan kaki membuat rasa kebangsaan saya bergetar. Apalagi mengetahui faktanya mereka rata-rata-rata berjalan 8 jam bahkan lebih untuk mencapai perbatasan dengan Indonesia. Dalam film ini, para pengungsi tersebut masuk dari pintu kota Tuapukan dan Uabelo di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Miris sekali rasa hati ini.

Di antara para pengungsi itu terdapat Tatiana (29 tahun, diperankan oleh Alexandra Gottardo) dan putriya Merry (10 tahun, diperankan oleh Griffit Patricia). Mereka terpaksa meninggalkan Timor-Timur tanah airnya yang saat itu sudah dalam proses menjadi Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Mereka bahkan meninggalkan kakak Merry, Mauro (12 tahun, diperankan oleh Marcel Raymond) yang dititipkan pada seorang pamannya yang bertahan di Timor-Timur. Kisah inilah yang menjadi benang merah utama keseluruhan film, bagaimana keluarga itu berjuang untuk dapat bertemu kembali dengan Mauro.

Namun bayangan akan menyaksikan film heroik atau minimal mengharukan rusak begitu muncul karakter Abu Bakar (diperankan oleh Asrul Dahlan) yang konyol. Abu Bakar ini adalah seorang pria Timor yang baru saja menikah dua minggu dan harus terpisah karena sang istri memihak kubu pro-kemerdekaan (kemudian diketahui sang istri ini sudah menikah lagi). Untuk menyambung hidupnya, pria bertubuh tinggi besar yang buta huruf ini berjualan bensin eceran. Tingkah Abu Bakar yang memang karakter utama pria ini mewarnai keseluruhan film dengan gelak-tawa. Misalnya saja saat ia mengakali penjual pom bensin yang menolak melayani pembelian dengan jeriken (dari kata bahasa Inggris jerry can) dengan memodifikasi tangki bensin motornya menjadi berukuran super besar. Namun ada tindakan yang bisa dimaknai secara simbolik saat Abu Bakar menempelkan sticker bertuliskan “Timor Leste” secara terbalik di tangki motornya. Meski didalihkan itu karena buta huruf, tapi bisa diartikan berbeda. Kuatnya karakter Abu Bakar ini membuat film secara keseluruhan terbungkus oleh komedi, padahal inti ceritanya ironi. Yah, seperti membungkus ironi dengan komedi.
Walau begitu, nuansa kesedihan tetap terasa apalagi saat ditunjukkan gambaran kamp pengungsian yang seadanya. Bahkan upacara pernikahan di tepi pantai yang ditingkahi lagu gembira “Bonita” dan “O’Dobben” tetap terasa menggiriskan hati. Di upacara pernikahan inilah karakter dokter Joseph (diperankan sendiri oleh sang sutradara Ari Sihasale) pertama kali muncul setelah dicari oleh Merry yang berlari panik karena ibunya sakit. Melalui karakter ini jualah pesan “cucilah tangan sebelum makan” yang ternyata disponsori oleh Lifebuoy (terlihat jelas dalam credit title di akhir film) sering digemakan, juga lewat tokoh-tokoh lainnya. Bagi saya, masuknya pesan sponsor ini cukup halus karena tidak ada logo sponsor terlihat di sepanjang film, mereknya pun tidak disebut, hanya pesan yang terasa universal itu saja.

Penggambaran karakter lain juga kuat. Misalnya karakter Carlo (diperankan dengan baik oleh Yehuda Rumbini) teman sekolah Merry yang nakal dan senang mengganggu Merry, ternyata kemudian menjadi sahabat terbaiknya. Tatiana sendiri  yang mengajar di sekolah darurat dimana Merry dan Carlo belajar. Berbagai kekonyolan juga muncul dari karakter ini, seperti adegan saat ia mencarikan minuman untuk Merry dimana ia mencuri air dari ceret seorang warga. Juga ada karakter pedagang peranakan keturunan Cina yaitu Koh Ipin (Robby Tumewu) dan Cik Irene (Tessa Kaunang) yang baik hati. Suami istri itu selain memberikan Merry pekerjaan membantu mereka di toko, juga membiarkan Merry membeli oleh-oleh kaos untuk Mauro seharga Rp 5.000,- saja. Padahal harga kaos itu aslinya Rp 50.000,-

Lukman Sardi yang di film-film lain kerap bermain sebagai peran utama, di film ini hanya mendapatkan peran kecil sebagai petugas relawan. Dari tangannya-lah didapatkan informasi tentang pencarian sanak-saudara yang masih tertinggal di Timor-Timur. Merry akhirnya bertemu Mauro di akhir film, berlokasi di “jembatan air mata” yang aslinya terletak di Mota ‘Ain. Oh ya, disebut begitu karena di jembatan yang menjadi pemisah kedua negara yaitu Republik Indonesia dan Republik Demokratik Timor Leste itu warga kedua negara yang sesungguhnya satu bangsa kerap bertemu dan saling berderai air mata di sana.

Bagi saya, pesan film ini sangat kuat. Agar pemerintah peduli pada nasib pengungsi Timor-Timur. Apalagi pekan lalu harian Kompas sempat mengangkat problema ini di halaman pertama serta liputan utamanya. Detailnya juga bagus, apalagi film ini memang digarap di lokasi pengungsian asli di Nusa Tenggara Timur. Apalagi penggunaan bahasa Indonesia dialek Timor yang kental di sepanjang film mengingatkan saya pada film kesukaan saya, Dances With Wolves (1990) yang menggunakan bahasa Indian Sioux dan Pawnee, patut diacungi jempol. Terlibatnya tentara asli dari kesatuan Kostrad dan Kopassus yang berjaga di sekitar “jembatan air mata” pun sempat mengagetkan saya. Ternyata, film ini memang didukung resmi oleh pemerintah dan Kodam setempat seperti tercantum di credit title. Bahkan nama sejumlah jenderal pun terlihat di sana. Rasa nasionalisme juga terjaga dengan tidak diperlihatkannya bendera negara RDTL sepanjang film. Padahal, aslinya dari “jembatan air mata” perbatasan dengan RDTL terlihat jelas.

Kalau pun ada kelemahan, selain “jembatan air mata” yang terlihat lebih pendek dibandingkan aslinya, hanya detail-detail kecil. Sebutlah mobil relawan yang hanya berwarna putih saja tanpa tulisan “UN”. Mungkin Alenia Pictures tidak mendapatkan izin dari PBB. Juga pemakaian lagu “Kasih Ibu” yang dinyanyikan Merry dan Mauro di atas jembatan air mata -apalagi Carlo ikut-ikutan- terasa sekali “sinetron banget”. Gaya realis menjadi rusak di adegan surealis ini.


Toh, secara keseluruhan, film ini sangat bagus. Terutama untuk mengingatkan kita bahwa Indonesia bukan hanya Jawa. Dan masih banyak masalah bangsa selain mengurusi kasus video porno “mirip artis”. Dan jelas, seperti lagu “Indonesia Pusaka” karya Ismail Marzuki yang syair pertamanya jadi judul film ini, senantiasa mengingatkan kita bahwa Indonesia adalah tanah air beta, yang akan selalu kubela dan kujaga.

Minggu, 03 Mei 2015

Kunjungan ke Museum

Tugas Soft Skill


“MUSEUM INDONESIA”
Di susun oleh :       Arif Taufik Akbar                           (11213307)
Dedayev Syamardala                   (12213099)
Ika Sugiarti                                      (14213241)
Nina Fatimah                                  (16213447)
Soraya Putri Yuniko                      (18213610)
Wuri Handayani                             (19213374)
Kelas              : 2EA18

UNIVERSITAS GUNADARMA
ATA 2015-2016
Sejarah Taman Mini Indonesia Indah
Taman Mini Indonesia indah adalah salah satu wisata terkenal di Indonesia dan merupakan kawasan objek wisata yang terbilang megah dengan luas area 165 hektar. Terletak di Jakarta Timur. Lahan tersebut awal mulanya merupakan daerah persawahan dan perladangan milik rakyat, namun kemudian ditransformasikan menjadi kawasan TMII. Taman Mini Indonesia Indah sengaja dibuat sebagai wahana yang dapat merepresentasikan kebhinekaan Indonesia dan kekayaan khasanah budaya bangsa. Sedangkan tujuan pendirian taman miniature ini adalah untuk memupuk dan membina persatuan bangsa, menjungjung tinggi kebudayaan,adat-istiadat,dan perilaku masyarakat Indonesia kepada rakyat Indonesia sendiri dan bangsa lain. Tujuan-tujuan tersebut kemudian diterjemahkan kedalam objek-objek wisata yang disajikan dikawasan TMII,seperti anjungan daerah,museum, taman,tempat rekreasi,dan lain-lain.
 Gagasan pendirian Taman Mini Indonesia Indah Sejarah mencatat, bahwa gagasan awal mula pendirian kawasan wisata TMII adalah oleh Ibu Negara Siti Hartinah Soeharto yang lebih di akrab dengan Ibu Tien Soeharto. Prakarsa tersebut diilhami oleh pidato Presiden Soeharto tentang keseimbangan pembangunan antara bidang fisik-ekonomi dan bidang mental spiritual. Selaku ketua Yayasan Harapan Kita (YHK),yang berdiri pada tanggal 28 Agustus 1968,Ibu Tien Soeharto menyampaikan gagasan pembangunan miniatur Indonesia pada rapat pengurus YHK tanggal 13 Maret 1970 di Jl. Cendana No.8, Jakarta. Bentuk dan sifat isian proyek berupa bangunan utama bercorak rumah-rumah adat daerah yang dilengkapi dengan pergelaran kesenian, kekayaan flora-fauna,dan unsure budaya lain dari masing-masing daerah yang ada diindonesia.
Gagasan itu dilandasi,antara lain, semangat untuk membangkitkan kebanggaan dan rasa cinta terhadap tanah air dan bangsa serta untuk memperkenalkan Indonesia kepada bangsa-bangsa lain di dunia. Tanggal 30 Januari 1971,pada penentuan Rapat kerja Gubernur, Bupati, dan Walikota seluruh Indonesia di Istana Negara yang juga dihadiri oleh presiden, Ibu Tien Soeharto dengan didampingi Menteri Dalam Negeri Amir Mahmud untuk pertama kalinya memaparkan maksud dan tujuan pembangunan miniature Indonesia “Indonesia Indah” di depan umum. Berbagai saran, tanggapan, dan pemikiran dari berbagai kelompok masyarakat pun muncul, yang sebagian besar mendukung pembangunan proyek tersebut.
Pada tanggal 11Agustus 1971,dengan surat YHK, ibu Tien soeharto menugaskan Nusa Consultans untuk membuat rencana induk dan studi kelayakan. Tugas itu selesai dalamwaktu 3,5bulan. Lokasi pembangunan proyek awalnya berada di daerah cempaka putih, diatas tanah seluas+14 hektar. Namun Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menyarankan lokasi didaerah sekitar Pondok Gede, kecamatan Pasar Rebo,dengan luas tanah + 100 hektar. Selain lebih luas, lokasi itu juga mengikuti perkembangan kota Jakarta dikemudian hari. Ibu Tien Soeharto menerima saran tersebut, karena dengan lahan yang lebih luas memungkinkan proyek miniature Indonesia menampilkan rumah-rumah adat daerah dan bangunan lain dalam ukuran yang sebenarnya. Pada tanggal 30 Juni 1972 pembangunan dimulai tahap demi tahap secara bersinambung. Rancangan bangunan utama berupa peta relief Miniatur Indonesia berikut penyediaan airnya, Tugu Api Pancasila, bangunan Joglo, dan Gedung pengelolaan disiapkan oleh Nusa Consultants berikut pembuatan jalan dan penyediaan kaveling tiap-tiap bangunan.
Rancangan banguna lain, seperti bangunan khas tiap daerah, dikerjakan oleh berbagai biro arsitek, sedang Nusa Consultans hanya membantu menjaga keserasian secara keseluruhan. Berkat kegotong-royongan semua potensi nasional: masyarakat disekitar lokasi,pemerintah pusat dan daerah, swasta, dan berbagai unsure masyarakat lainnya, dalam kurun waktu tiga tahun pembangunan TMII tahap pertama dinyatakan selesai. Pada tanggal 20 april 1975 Taman Mini “Indonesia Indah” diresmikan pembukaannya oleh presiden Soeharto. TMII telah mempunyai logo berhuruf I dan I, kedua huruf ini mewakili nama Indonesia Indah. Sedangkan maskotnya berupa tokoh wayang Hanoman yang dinamakan NITRA (Anjani Putra).Sebagai kawasan wisata yang dikonsep secara matang,sejak usia dini TMII telah mengantongi berbagai penghargaan dibidang pariwisata, baik penghargaan dari pemerintah daerah maupun lembaga Internasional.
Penghargaan ini salah satunya berasal dari pemrintah DKI Jakarta yang diberikan pada tahun 1976, 1977, 1978, 1981, 1991, 1992, 1993, dan 1995. Selain itu,TMII juga pernah menggodol penghargaan pelestarian kebudayaan Golden Award dari Pacific Asian Travel Assosiation (PATA) pada tahun 1987. Khusus dibidang pembinaan industry kecil, TMII juga pernah mendapatkan penghargaan dari pemerintah Republik Indoneisa berupa Upakarti Kepeloporan pada tahun 1990.
Untuk masuk kedalam Taman Mini Indonesia Indah ( TMII ) kita harus membayar tiket sebesar 10.000/orang,untuk kendaraan mobil sebesar 10.000/mobil,dan untuk  kendaraan sepeda motor sebesar 6.000/motor.


Museum Indonesia, adalah museum antropologi dan etnologi yang terletak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Indonesia. Museum ini berkonsentrasi pada seni dan budaya berbagai suku bangsa yang menghuni Nusantara dan membentuk negara kesatuan Republik Indonesia. Museum ini bergaya arsitektur Bali dan dihiasi beraneka ukiran dan patung Bali yang sangat halus dan indah. Museum ini menyimpan koleksi beraneka seni, kerajinan, pakaian tradisional dan kontemporer dari berbagai daerah di Indonesia.
Biaya masuk untuk ke museum Indonesia sebesar 15.000/orang

Sejarah museum Indonesia

Museum ini dirancang sebagai bagian dari kesatuan kompleks Taman Mini Indonesia Indah. Bertujuan sebagai pusat informasi dan pembelajaran mengenai Kebudayaan Indonesia, sebagai "satu perhentian untuk belajar mengenai Indonesia". Museum dan keseluruhan komplks TMII dibangun dan kemudian diresmikan pada tahun 1975 atas prakarsa Ibu Tien Suharto. Museum ini dihiasi berbagai ornamen dan patung Bali dan bergaya arsitektur Bali yang sangat indah. Beberapa gapura besar bergaya Paduraksa dan Candi Bentar (gerbang terbelah) khas  Bali, demikian pula beberapa menara sudut menghiasi kompleks museum. Taman dan bangunan museum mengambil tema kisah Ramayana, misalnya jembatan menuju bangunan utama berbentuk ular Naga dan Wanara, pasukan kera yang membangun jembatan menuju Alengka.
Bangunan utama terdiri atas tiga lantai yang berdasarkan pada falsafah Bali Tri Hita Karana, konsep moral yang menekankan pada tiga aspek yang dapat membawa manusia kepada kebahagiaan sejati yakni; memelihara hubungan yang harmonis dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam dan lingkungan sekitar.



Ruang pamer permanen Museum Indonesia memamerkan koleksi yang terbagi atas tiga bagian yang masing-masing terletak di tiga lantai:
1.      Lantai Pertama
Ruang pamer lantai pertama bertema Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda-beda tapi satu jua). Bagian ini menampilkan pakaian tradisional dan pakaian pernikahan dari 27 provinsi di Indonesia (jumlah provinsi Indonesia tahun 1975 sampai 2000). Ruang pamer ini juga menampilkan berbagai kesenian khas Indonesia, seperti beraneka ragam tari, wayang, dan gamelan, serta lukisan kaca bergambar peta Indonesia. Pameran ini menampilkan kekayaan dan keanekaragaman budaya masyarakat Indonesia, yang terdiri atas berbagai bahasa, tradisi, agama, budaya, dan adat istiadat masyarakat Indonesia.





1.      Lantai Kedua
Manusia dan Lingkungan adalah tema dari ruang pamer di lantai kedua. Bertujuan untuk menjelaskan mengenai interaksi masyarakat Indonesia dengan alam dan lingkungannya. Dipamerkan berbagai rumah miniatur rumah tradisional, bangunan peribadatan, lumbung padi, dan tata letak bangunan dan ruang tinggal masyarakat Indonesia. Sebagai contoh, rumah panggung, rumah yang didirikan di atas pohon atau di atas sungai, serta bebagai bangunan tradisional lainnya.
Diorama dari bagian rumah tradisional Indonesia juga dipamerkan, seperti kamar pengantin adat Palembang, ruang tengah masyarakat Jawa, serta dapur masyarakat Batak. Dipamerkan pula berbagai benda keperluan sehari-hari untuk berburu, mengumpulkan makanan, dan alat-alat pertanian. Beberapa diorama menampilkan upacara adat menyangkut daur hidup manusia, seperti upacara Mitoni (nujuh bulanan), Turun Tanah (upacara untuk bayi), Khitanan, Mapedes (upacara potong gigi masyarakat Bali), upacara pelantikan Datuk, dan Pelaminan Minangkabau.


1.      Lantai Ketiga
Seni dan Kriya adalah tema ruang pamer lantai ketiga. Ruangan ini menampilkan seni dan kerajinan tradisional dan kontemporer masyarakat Indonesia. Kerajinan kain tradisional seperti Songket, Tenun, dan Batik dipamerkan, demikian juga benda-benda kerajinan dari logam seperti ukiran tembaga dan kuningan.
Seni ukir kayu yang sangat teliti dan rumit juga ditampilkan, seperti seni ukir Jepara (Jawa tengah), Bali, Toraja, dan Asmat. Benda seni utama di lantai ketiga adalah ukiran kayu yang sangat besar berbentuk Kalpataru, pohon hayat. Ukiran pohon setinggi delapan meter dan lebar empat meter ini melambangkan alam semesta dan mengandung lima unsur dasar; langit, air, angin, bumi, dan api. Benda seni utama ini ini menutup pameran di museum ini.
Ukiran pohon Kalpataru setinggi 8 meter, koleksi utama di lantai ketiga





Pagelaran Lainnya
Terkadang  museum  ini  menggelar pameran tidak tetap atau sementara dengan tema tertentu, seperti pameran topeng, kain tradisional, senjata tradisional, lukisan, serta peragaan pembuatan seni kerajinan  tradisional; seperti demonstrasi pembuatan membatik, dan menatah wayang kulit.
Selain bangunan utama, di dalam kompleks Museum Indonesia terdapat taman Bali, Bale Panjang, Bale Bundar, dan bangunan Soko Tujuh building yang dapat disewakan untuk berbagai keperluan umum.
Museum Indonesia adalah museum yang populer dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara, baik pelajar, mahasiswa, umum, bahkan tamu negara. Kebanyakan pengunjung bertujuan untuk menangkap kilasan pesona kekayaan dan keanekaragaman budaya Indonesia dalam kunjungannya, sebagai "satu perhentian untuk belajar mengenai Indonesia
Fasilitas lainnya yang disediakan oleh taman mini adalah adanya mobil keliling,dimana mobil ini berfungsi mengantarkan para pengunjung untuk berkeliling taman mini dengan mudah harga tiket untuk mobil ini seharga Rp.5000 per orang,selain mobil keliling ada pula penyewaan sepedah dimana sepedah tersebut bisa kita pakai untuk berkeliling taman mini dengan keluarga dan teman karna jasa penyewaan sepedah pun menyediakan sepedah yang sekaligus bisa dipakai untuk tiga orang harga penyewaan sepeda seharga Rp. 20,000 per jam/sepedah,selain itu ada juga penyewaan sepedah motor dimana motor tersebut dapat kita bawa untuk mengelilingi taman mini harga penyewaan motor tersebut seharga Rp. 50,000 per jam.
Dengan adanya penyewaan dan bis keliling tersebut semakin memudahkan kita untuk menelusuri luasnya taman mini Indonesia indah tanpa perlu bersusah payah menggunakan angkutan pribadi.



Ini adalah foto-foto kita saat di Taman Mini Indonesia Indah (museum Indonesia,museum keprajuritan)